Ahmed Zewail, Memecahkan Misteri Atom dengan Kilatan Cahaya Femtosekon

Fot Ahmed Zewail di laboratium

Ahmed Zewail, seorang tokoh ilmiah yang lahir di Mesir pada tahun 1946, meninggalkan jejak luar biasa dalam dunia sains dan kimia. Pendidikannya dimulai di Universitas Alexandria, di mana ia menyelesaikan gelar sarjana dan magister sebelum melanjutkan studi doktoralnya di Amerika Serikat, tepatnya di Universitas Pennsylvania.

Perjalanannya berlanjut ketika ia bergabung dengan Universitas California, Berkeley, sebelum akhirnya menemukan rumah ilmiahnya di California Institute of Technology (Caltech) pada tahun 1976.

Prestasinya yang paling mencolok adalah kontribusinya dalam bidang femtokimia, di mana ia diakui sebagai “bapak femtokimia.” Zewail berhasil mengembangkan metode revolusioner yang memungkinkan pengamatan reaksi kimia dengan menggunakan laser ultrafast, menghasilkan kilatan cahaya dalam rentang femtosekon (10^-15 detik).

Dengan metode ini, Zewail memungkinkan ilmuwan untuk menyaksikan dan memahami pergerakan dan perubahan atom selama reaksi kimia berlangsung. Keterampilan unik ini membuka pintu untuk pemahaman mendalam tentang struktur dan fungsi molekul biologis.

Prestasinya diakui dengan pemberian Hadiah Nobel dalam Kimia pada tahun 1999. Zewail menjadi ilmuwan Mesir dan Arab pertama yang menerima penghargaan tersebut dalam bidang ilmiah, serta ilmuwan Afrika kedua yang meraih Nobel dalam Kimia. Keberhasilannya ini tidak hanya mengangkat namanya, tetapi juga memberikan inspirasi kepada generasi ilmuwan muda di negara-negara berkembang.

Selain kesuksesannya di dunia sains, Ahmed Zewail juga terlibat aktif dalam bidang pendidikan dan diplomasi sains. Dengan dedikasinya terhadap pembangunan ilmu pengetahuan, ia memberikan kontribusi besar dalam memajukan riset dan pendidikan di negara-negara berkembang.

Namun, dunia kehilangan seorang ikon sains ketika Zewail meninggal pada tahun 2016 di Pasadena, California. Warisan dan pengaruhnya tetap hidup melalui penelitian-penelitian yang terus diilhami oleh karyanya yang monumental.